M Ali Surakhman
Setelah pindah tugas di Sungai Penuh, kemudian saya kembali bergabung dengan IPPOS yang saya cintai, banggakan dan saya bela sepanjang hidup. IPPOS adalah suatu organisasi pemuda dan pelajar yang sangat memengaruhi jalan kehidupan saya, yang sangat saya rasakan manfaatnya selama tiga tahun merantau. Cara bermasyarakat, cara tampil berpidato di depan umum, berolah raga dan sebagainya, semuanya saya dapat di dalam berorganisasi di IPPOS. Banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang saya dapatkan di IPPOS yang berguna sepanjang hidup saya. Oleh karena itulah dalam pendidikan terkenal dengan Tri Dharma, yaitu di rumah tangga, di sekolah dan di lingkungan, seperti organisasi pemuda atau pelajar. Teman-teman dari IPPOS yang telah mendapat pengajaran dan pengalaman berorganisasi di dalam IPPOS yang melanjutkan pendidikan keluar daerah dan bertugas di dalam berbagai profesi yang tersebar dari Sabang sampai Merauke semuanya dapat merasakan besarnya pengaruh berorganisasi di dalam IPPOS.
Maka di dalam tausiyah atau nasihat kematian di saat teman-teman IPPOS meninggal dunia sering saya sampaikan bahwa di Sungai Penuh selama dunia terkembang ada dua organisasi pemuda atau pelajar yang paling berpengaruh dan berjasa menyatukan Sungai Penuh dan tidak mungkin akan ada organisasi ketiga yang menyamainya, yaitu:
As-Sautulhaqqu (Suara Kebenaran) tahun 1930, yang dipimpin oleh Abdullah Kembang dan kawan-kawan, yang melahirkan tokoh-tokoh penting tingkat Kerinci dan bahkan nasional seperti Mayjen A. Thalib.

Murid-murid As-Sautulhaqqu Sungai Penuh.
Ayahku Bilal Ismail (X) dan Mayjen H. A. Thalib (XX)
IPPOS atau Ikatan Pemuda Pelajar Obor Sungai Penuh, berdiri tahun 1954, terdiri dari pemuda dan pelajar Sungai Penuh. Pertama kali diketuai oleh Hafni Manan. Setelah Hafni Manan meninggal dunia dalam usia muda, pada tahun 1955 IPPOS diketuai oleh Sodikin Mukhtar. IPPOS telah melahirkan pemimpin-pemimpin dan tokoh-tokoh tingkat Kerinci dan bahkan nasional seperti Prof. Dr. Amir Hakim Usman, Laksamana Pertama Sjofjan Huri, S.H., Prof. dr. Hafid Ardy, Mayor Jenderal Dr. Chalid Karim Leo, S.H., M.Sc., Ir. Sjahrudin Semat, MURP., Fauzi Siin, dan lain-lain.
Setelah saya pindah ke Sungai Penuh pada tahun 1956 dan bertugas di SR 5 Sungai Penuh, saya masih mempunyai banyak waktu berorganisasi di IPPOS. Setelah tiga bulan saya di Sungai Penuh diadakanlah rapat anggota untuk memilih pengurus baru IPPOS periode ketiga bertempat di SR 2 Sungai Penuh dan menghasilkan dewan formatur yang terdiri dari lima orang anggota, yaitu Sodikin Mukhtar, Amiruddin Suki, Suardi Fachruddin, Khudri Muluk, dan Mahyuddin Janzan. Dari rapat dewan formatur terpilihlah saya sebagai ketua umum dan Sodikin Mukhtar sebagai sekretaris umum dilengkapi dengan pengurus-pengurus lainnya, yang terdiri dari anggota dewan formatur lainnya dan dari luar formatur. Setelah selesai rapat dewan formatur maka pengurus terpilih mengadakan rapat untuk menyusun program kerja selanjutnya yang disesuaikan dengan perkembangan situasi.
Untuk kepengurusan ada penambahan seksi kerohanian dengan program kerjanya terutama belajar tahsin Al-Qur’an karena sebagian anggota ada yang sudah bisa membaca Al-Qur’an, ada yang sudah mengenal huruf Al-Qur’an dan ada yang sama sekali buta huruf Al-Qur’an. Pengajian Al-Qur’an diadakan dua kali seminggu pada malam Jumat dan malam Ahad bertempat di rumah orang tua saya, sedangkan gurunya ialah Ustadz Yakman dengan asistennya saya, Imam Damanhuri, dan Fachri Mursalin. Pengajian ini berjalan lancar dan sukses, sebagian besar anggota IPPOS tidak ada yang buta huruf Al-Qur’an lagi. Untuk menjaga hubungan muda-mudi agar tidak melanggar etika agama dan adat, maka dibuatlah peraturan di antara anggota tidak boleh perpacaran dan bergaul di luar batas kewajaran. Sebelumnya ada anggota yang menulis kepada saya, untuk peraturan ini tidak berlaku buat saya, karena semua anggota telah mengetahui hubungan saya dengan Maharani Oesman, namun saya tetap menjaga etika, tidak pernah berdua-duaan, hanya sekedar melihat dan melirik pada saat bertemu di lapangan olah raga.
Pada saat ulang tahun ketiga IPPOS diadakanlah gotong royong membersihkan lingkungan dan diikuti petugas untuk memungut sumbangan ikhlas dari warga masyarakat berupa uang, beras dan sebagainya. Diadakan juga musabaqah tilawatil Qur’an (MTQ) untuk tingkat dewasa dan lomba sholat untuk tingkat anak-anak, serta malam penutupan yang dilaksanakan di Gedung Nasional Sungai Penuh dengan acara peringatan ulang tahun, pentas drama, tari, lagu dan lelucon. Alhamdulillah acara berlangsung dengan sukses dan khidmat. Yang hadir terdiri dari para undangan dan masyarakat Sungai Penuh terutama keluarga dari anggota IPPOS. Begitulah setiap tahun diperingati ulang tahun IPPOS, semakin bertambah usia semakin bertambah khidmat dan sukses penyelenggaraannya.

Pertemuan Anggota IPPOS di Gedung Nasional Sungai Penuh.
Pada hari besar agama Islam seperti hari raya Idul Fitri semua anggota IPPOS gotong royong mencari bambu ke ladang dan membuat hiasan pintu gerbang terutama di pintu gerbang dekat Masjid Raya Sungai Penuh atau Tanah Mendapo dan pintu gerbang di luhah Datuk Singarapi Putih. Pada malam harinya diadakan takbir keliling kota Sungai Penuh dan sekitarnya, bahkan diikuti juga oleh warga negara keturunan China (Lee Tai Ceng) dan warga negara keturunan India (Ahmad Chan). Sebaliknya pada waktu hari raya China (Imlek) sebagian anggota IPPOS juga berkunjung ke rumah Lee Tai Ceng, bahkan ada anggota yang kebablasan mabuk karena minum minuman keras yang disediakan.
Dengan kepedulian IPPOS terhadap kebutuhan masyarakat maka bertambahlah kecintaan dan simpati masyarakat terhadap IPPOS sehingga sirnalah anggapan dan kecurigaan sebagian tokoh masyarakat bahwa IPPOS adalah organisasi underbow Partai Komunis Indonesia (PKI). Memang pada awal berdirinya IPPOS dimulai dari pelajar-pelajar SMP dan beberapa orang pemuda bermain bola dengan pelatihnya seorang anggota PKI, namun dalam kesehariannya tidak pernah memengaruhi, mengarahkan atau melakukan propaganda kepada anggota supaya masuk ke dalam PKI. Niatnya semata-mata benar-benar ingin melatih sepak bola untuk yuniornya anggota IPPOS, karena sebelumnya ia adalah seorang pemain sepak bola terkenal dari Klub Fajar, yang para pemainnya terdiri dari pemuda-pemuda Sungai Penuh dan Pondok Tinggi.

Anak IPPOS pada Hari Raya Iedul Fitri 1 Syawal 1375 H.
Pada malam harinya sebagian besar pemuda IPPOS berkumpul dan bermain di markasnya, yaitu di Gudang Nantan-nek Siin yang merupakan huller gilingan padi serta gudang kopi, beras dan lain-lain serta sebuah ruangan khusus yang ada kursi, tempat tidur dan ruang tamu, milik H. Muhammad Siin. Tempat inilah yang digunakan pemuda-pemuda IPPOS untuk belajar. Ada juga sebagian kecil anggota yang bermain kartu dan domino di ruangan yang lain, bahkan semalam suntuk, dibiarkan saja dan tidak pernah dilarang, karena memang berwatak “preman”. Sebagian anggota IPPOS pecandu permainan kartu dan domino ini, akhirnyamemang tidak berhasil di dalam pendidikannya, sekolahnya berhenti di tengah jalan. Akibatnya mereka menyesal sepanjang hidupnya, disebabkan hari pagi dan masa muda disia-siakan. Seperti peribahasa, Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna.
Kemudian ada lagi sebagian kecil yang berjiwa dan berwatak keras, suka berkelahi sesama teman atau berkelahi membela kebenaran. Seperti pernah kejadian pada suatu hari datang salah seorang anggota ke rumah saya melaporkan M. Sangkut dan Zul Arsi terlibat konflik dan akan berkelahi satu lawan satu (duel) di Koto Tinggi (Bukit Sentiong). Maka berangkatlah saya untuk bertemu dengan keduanya, memberi nasihat dan pengajaran kepada keduanya. Mereka berdua menerimanya dan saling bermaafan, apalagi mereka berdua ada hubungan keluarga dan sama-sama berasal dari Dasira. Konflik karena jiwa muda yang cepat panas tersebut dapat reda, kemudian diselesaikan dan diarahkan dengan adanya semangat persatuan, kesatuan dan kekeluargaan di dalam IPPOS.
Contoh lain keberanian pemuda IPPOS di dalam membela kebenaran, seperti kejadian keributan di kedai kopi milik Mandor Rimon, seorang bapak tua mantan preman yang berasal dari Jawa dan beristrikan mantan istri majikannya sendiri yang masih muda dari Yogyakarta, berlokasi dekat jembatan Batang Air Bungkal di Dusun Baru. Kedai kopi ini selalu ramai terutama menjadi tempat minum para pekerja huller H. Muhammad Siin, bahkan beliau sendiri sering minum di kedai ini, dengan menu ala Jawa, seperti pecal, soto dan sebagainya.
Pada suatu waktu terjadi keributan dan mengakibatkan perkelahian antara H. Muhammad Siin dengan seorang pemuda yang bernama Bahari dari Dusun Baru. Peristiwa ini akhirnya sampai juga kepada anak-anak beliau, Thalat Siin dan Fauzi Siin,serta kemenakan beliau, Zul Arsi, yang ketiganya masih sekolah setingkat SMP. Peristiwa perkelahian antara H. Muhammad Siin dan Bahari yang terjadi pada pagi hari tersebut, namun pada siang hari menjelang waktu zuhur ketiga pelajar SMP tersebut datang untuk membalas perlakuan Bahari terhadap orang tua mereka, mereka bersembunyi di depan rumah makan Bopet Penjahit (satu-satunya rumah makan di Pasar Sungai Penuh), tempat Bahari biasa makan siang. Setelah Bahari keluar dari rumah makan, dia dikeroyok sampai babak belur oleh ketiga pelajar SMP tersebut dan berteriak minta tolong kepada khalayak ramai.
Tindakan ketiga pelajar SMP tersebut adalah membela nama baik orang tuanya. Begitulah jiwa muda membela kebenaran. Musuh tidak dicari, bertemu pantang lari. Akhir riwayat hidupnya, Thalat Siin menjadi seorang prajurit TNI Angkatan Darat berpangkat Letnan Kolonel, Fauzi Siin seorang prajurit zeni TNI Angkatan Darat juga berpangkat Letnan Kolonel dan menjadi Bupati Kerinci selama dua periode, dan Zul Arsi yang sampai akhir hidupnya menderita gangguan psikologis. Pada saat Zul Arsi meninggal dunia, saya memberikan kata nasihat kematian dan menyampaikan nostalgia bersama Zul Arsi yang waktu SMP jurusan “B” termasuk pelajar yang pintar, serta keberanian dan kejujurannya semasa muda di IPPOS. Semoga amal baiknya diterima di sisi Allah dan ditempatkan pada tempat yang sewajarnya. Aamiin Ya Rabbal’Alamin…
Sumber :
Kyai. H. Zainuddin Ismail
Yoserizal Sis staff Menhan RI
Tren Hijrah Generasi Milineal, Mencari Identitas atau Pelariankah ?


Menambal Asa di Jalur Penyangga : Komitmen PUTR Jambi Benahi Infrastruktur Jalan Padang Lamo



